Menu Click to open Menus
Home » KLATEN » Yaqowiyu meriah, Pesan sosial Ki Ageng Gribik tetap terjaga

Yaqowiyu meriah, Pesan sosial Ki Ageng Gribik tetap terjaga

(166 Views) January 22, 2011 8:12 pm | Published by | No comment

Klaten Ya Qowiyyu —salah satu asmaul-husna yang artinya Yang Maha Kuat— adalah juga nama event tahunan sebaran apem di Jatinom, Klaten. Wartawan SOLOPOS Aries Susanto menjadi saksi masih kuatnya jejak kesalehan sosial Ki Ageng Gribik dalam Yaqowiyu itu.

Para santri berbaju putih itu melangkah perlahan menuruni tangga sambil memanggul gunungan apem. Dari mulut mereka mengalun zikir tiada henti, “Yaqowiyu ya aziz, qowina walmuslimin. Yaqowiyu ya rozak, warzuqna walmuslimin.”

Tiba di tepi Kali Soka, di tanah lapang Sendang Plampeyan, suara zikir itu terdengar kian keras. Seperti menggema di tengah-tengah ribuan orang yang berdiri di bawah terik mentari.

Zikir itu terus berkumandang hingga sesaat sebelum perhelatan religius akbar Yaqowiyu dimulai. Sebait doa mengawali. Begitu doa usai dipanjatkan, ribuan orang yang menyemut di tempat itu riuh berebut apem.

Ada yang terjatuh, terjengkang, terinjak, berteriak dan juga tertawa. Namun ada pula yang terus khusyuk berdoa di kejauhan tanpa berebut apem.

“Kula sampun tuwa. Mboten saget rebutan apem (Saya sudah tua. Tak bisa berebut apem),” kata Mbah Warso, perempuan renta asal Baki, Sukoharjo. Jumat (21/1) siang itu, Desa Jatinom—sebuah desa yang menjadi cikal bakal Kecamatan Jatinom, Klaten—memang sangat padat.

Di setiap ruas jalan dan gang, penuh para penjaja makanan apem. Mereka meyakini bahwa apem adalah berkah pada hari itu. “Apem itu afwun, artinya memaafkan. Jadi, ya berebut maaf,” jelas Panji Supardi, juru kunci makam Ki Ageng Gribik suatu hari.

Asal-muasal tradisi sebaran apem memang tak bisa dilepaskan dari sosok Ki Ageng Gribik, ulama kharismatik yang hidup di abad XVI. Dalam perjalanannya, Ki Ageng Gribik menjadi sangat dicintai warganya karena kesalehan sosialnya.

“Dan sebaran apem adalah salah satu tradisi peninggalan Ki Ageng Gribik yang harus kita jaga. Karena di dalamnya penuh dengan pesan sosial, cinta kasih dan saling peduli kepada sesama,” kata Bupati Sunarna dalam kata sambutannya pada acara itu.

Sejak ratusan tahun silam, tradisi yang bernama Yaqowiyu itu terus menyimpan magnet bagi ribuan warga Klaten dan sekitarnya, tak terkecuali wisatawan mancanegara. Ketika pertengahan bulan Safar tiba, maka sebaran apem menjadi puncak acara yang dinanti-nanti.

Mbah Warso barangkali adalah saksi hidup betapa sebaran apem selalu menggerakkan hatinya untuk mendatangi acara itu. Kini, meskipun usianya telah menginjak 83 tahun, Mbah Warso tak pernah goyah untuk mendatangi acara setahun sekali itu. “Dateng mriki niku ngalap berkah (Ke sini untuk mengharap berkah-red),” katanya.

Berkah, bagi Mbah Warso barangkali sungguh berarti. Mungkin bagi kesehatannya, bagi rezekinya, bagi laku hidupnya agar selalu setia mengikuti jejak kesalehan sosial Ki Ageng Gribik. – Oleh : Aries Susanto

Disalin dari: SOLOPOS, Edisi : Sabtu, 22 Januari 2011 , Hal.1


Tags:

apakah masih ada lowongan di dinas perhubungan kabupaten klaten yaqowiyu asmaul husna yakowiyu yaaziz

Tags:
Categorised in: ,

No comment for Yaqowiyu meriah, Pesan sosial Ki Ageng Gribik tetap terjaga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *