Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » FITUR » Tenaga Kerja Pertanian “Tandur” Tak Diminati Kaum Muda

Tenaga Kerja Pertanian “Tandur” Tak Diminati Kaum Muda

(0 Views) March 31, 2013 3:17 pm | Published by | No comment

Dalam proses produksi sektor pertanian khususnya komoditas padi diantaranya terdapat kegiatan menanam benih atau “tandur”. Tandur dalam bahasa jawa dimaknai menata (benih) dengan cara mundur. Lazimnya tenaga kerja untuk menanam benih padi dilakukan oleh kaum perempuan. Perempuan tersebut membuat kelompok kerja. Dalam satu kelompok terdiri antara 4 – 6 orang. Tenaga kerja ini nampaknya belum akan tergantikan oleh alat dan mesin pertanian dalam kurun waktu cukup lama. Apalagi di wilayah perdesaan yang luas kepemilikan lahan pertanian perkapita sempit. Peran tenaga kerja untuk “tandur” dinilai sangat penting. Ironisnya regenerasi tenaga ini berjalan cukup sulit,mengingat kaum muda tidak lagi tertarik memilih profesi di sektor ini.

tandur-tani-klaten

Sebagaimana dituturkan mbok Pairo (60) yang berdomisili di Kadilaju, kecamatan Karangnongko mempunyai anggota kelompok tandur empat orang semuanya perempuan usianya diatas  55 tahun. Sekarang mencari anak-anak muda, apalagi yang berpendidikan untuk diajak ikut tandur tidak mudah. Mereka tidak mau kerja disawah yang panas, basah berlumpur dan kotor, katanya. Lebih lanjut mbok Pairo menjelaskan pada saat musim tanam tenaganya sangat dibutuhkan oleh petani, bahkan sering menolak permintaan apabila jadwal sudah penuh. Bisa dalam satu bulan tidak ada waktu kosong saat tiba musim tanam.

Untuk menanam benih padi dengan luas satu patok atau rata-rata 2200 meter persegi dibutuhkan waktu satu hari. Kelompok mbok Pairo berlima mulai bekerja pukul 7.00 pagi hingga jam 17.00 WIB. Petani biasanya membayar per patok Rp 150.000,00 untuk biaya tandur. Artinya perhari satu kelompok yang terdiri lima orang, masing-masing anggota mendapatkan upah Rp 30.000,00. Dengan diberi makan siang , snack dan minum. Memang mereka rerata tidak mengenyam pendidikan alias buta aksara, jadi dengan pendapatan yang minim tersebut mereka cukup menikmati. Mereka tidak memiliki pilihan lain, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari “tandur” merupakan keahliannya. Pada saat tandur mereka menggunakan alat yang disebut “blak”, untuk menentukan jarak tanam yang dikehendaki. Saat ini lagi trend model “Tajarwo” yakni tanam dengan sistem jajar legowo, kelompok penanam padi ini pun dapat mengikuti perkembangan. Wilayah kerja kelompok tandur ini tidak mengenal batas administratif, bahkan sering diminta petani di wilayah lain seperti kecamatan Jogonalan  dan Manisrenggo. Dengan demikian nyaris kelompok ini tak pernah memiliki hari libur. Manakala jadwal tanam sudah disepakati antara petani dengan kelompok tandur, maka harus ditepati. Walaupun hujan sekalipun bukan menjadi rintangan. Kalau hujan mereka mengenakan caping dan plastik sebagai mantel untuk melindungi tubuh dari guyuran air hujan.

Namun demikian tenaga kerja yang sangat dibutuhkan ini nampaknya memiliki kedepan memiliki kendala dalam regenerasi. Kaum muda perempuan lebih berminat bekerja kekota atau ke luar negeri berburu dolar daripada menjadi tenaga kerja pertanian. Mengingat upah yang diperoleh masih rendah, sementara lokasi kerjanya diareal terbuka sehingga harus rela kepanasan, berbasah dan berkotor dengan lumpur. Kendala sulitnya mencari tenaga tandur saat musim tanam yang bersamaan, seperti yang dikeluhkan Sunarto “ Betul saat musim tanam padi secara bersamaan agak sulit mencari tenaga tandur”. Akhirnya  harus bersabar menunggu antrian, demikian jelasnya. Sunarto adalah seorang petani yang menggarap sawah luasnya “sebahu” (kurang lebih 0,7 ha), berlokasi di bulak Karangeri. Dengan luasan tersebut dibutuhkan waktu tiga hari untuk tanam benih padi, oleh kelompok tandur yang terdiri lima orang.

Jumbadi ketua Gapoktan di kecamatan Karangnongko mengharapkan kepada pemerintah daerah kabupaten Klaten agar mulai memikirkan pengenalan dan perapan alat mesin pertanian untuk penanaman benih padi, sebagai antisipasi dan solusi sulitnya buruh tandur kedepan.

Oleh: Kiswanto

Categorised in: , ,

No comment for Tenaga Kerja Pertanian “Tandur” Tak Diminati Kaum Muda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *