Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » KLATEN » Tak ada regenerasi, pengusaha karak Drono gulung tikar

Tak ada regenerasi, pengusaha karak Drono gulung tikar

(41 Views) April 13, 2010 7:06 am | Published by | No comment

Ngawen (Espos) Sejumlah usaha pembuatan karak di Desa Drono Kecamatan Ngawen, Klaten, gulung tikar karena para pengusahanya tidak mampu memunculkan generasi penerus.

Budi Sayahroni, 76, salah seorang pengusaha karak di RT 2/RW VI Desa Drono mengisahkan, sekitar tahun 1960, desanya dikenal sebagai penghasil karak. Menurutnya, hampir semua warga Drono menjadikan bisang usaha itu sebagai mata pencaharian utama mereka. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, para pemilik usaha penganan itu banyak yang gulung tikar karena tidak ada generasi penerus usaha mereka. “Dulu, jumlah pemilik usaha karak mencapai ratusan orang. Tetapi, saat ini, jumlahnya menyusut menjadi tujuh orang,” ungkap kakek dari 15 cucu ini saat ditemui Espos di kediamannya, Sabtu (10/4). Budi mengatakan, generasi sekarang cenderung tak mau susah payah dalam bekerja. Sementara untuk meneruskan usaha pembuatan karak, dibutuhkan tenaga yang bersedia bekerja keras. “Mereka itu wegah rekasa. Penginnya bekerja yang enak saja,” papar Budi. Dalam sehari, Budi mengaku mampu memroduksi 4.000 loyang karak. Karak itu kemudian dijual ke pasar dengan harga Rp 60.000 untuk setiap 1.000 biji. Dengan demikian, dalam sehari pendapatan budi bisa mencapai Rp 240.000 ribu. Akan tetapi, pendapatan itu dibarengi dengan pengeluaran yang tidak sedikit pula untuk gaji lima karyawan, pembelian bahan baku seperti beras, nasi aking, minyak goreng, kayu bakar, garam dan bleng atau obat yang mampu memadatkan adonan nasi aking dan beras.

Terkendala hujan

Diakui Budi, selain tidak ada generasi penerus, kendala lain yang dihadapi pengusaha karak adalah musim penghujan. Pada musim penghujan, setidaknya dibutuhkan waktu dua hari untuk mengeringkan karak. Padahal, cukup sehari mengeringkan karak pada musim kemarau. Kondisi itu berkebalikan dengan permintaan pasar. Pada musim kemarau permintaan karak cenderung kecil, sebaliknya pada musim penghujan. Salah seorang pengusaha lainnya, Mahmud, 30, mengaku tak mampu memrediksi kelanjutan usahanya di masa depan. Menurutnya, menggeluti usaha karak juga butuh keuletan. Kenyataan itu juga membuat animo generasi muda menggeluti usaha ini juga menyurut. “Kena percikan api dan minyak sudah biasa. Bahkan, enam tahun lalu dapur kami sempat terbakar,” papar Mahmud.

Disalin dari: SOLOPOS, Edisi : Senin, 12 April 2010 , Hal.VII


Tags:

karak drono karak drono klaten sejarah karak drono

Tags:
Categorised in: ,

No comment for Tak ada regenerasi, pengusaha karak Drono gulung tikar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *