Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » KLATEN » Rasa Cabai Tak Sepedas Harganya

Rasa Cabai Tak Sepedas Harganya

(32 Views) January 25, 2011 6:45 am | Published by | No comment

Ditengah-tengah keriuhan tahun baru 2011, ibu-ibu rumah tangga di Indonesia dipaksa menjerit bukan karena kegembiraan menyambut tahun baru, melainkan akibat kenaikan harga kebutuhan pokok yang selangit, terutama cabe, bawang, dan beras.

Di beberapa pasar tradisional, harga cabai rawit bisa menembus harga diatas Rp 50 ribu per-kilogram, padahal sebelumnya hanya berkisar Rp12-15 ribu. Di Pasar Badung Bali harga tersebut mencapai Rp 90 ribu, Sedangkan di Jawa Barat, Bandung tepatnya Pasar Soreang harga Cabai benar-benar fantastis, yaitu mencapai Rp 140 ribu per-kilogramnya. Kenaikan seperti ini terjadi merata di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Selain harga cabai, kenaikan harga komoditas lain yang sangat mencolok adalah beras. Di Palangkaraya Kalimantan, kenaikan harga beras rata-rata mencapai Rp 5.500 per-kilogramnya. Bahkan, dengan alasan menekan harga beras yang sangat tinggi di pasar, pemerintah akan mengimpor beras dari luar sebanyak 600 ribu ton. (Sebagai catatan; Indonesia telah menyetujui dan menjamin akses pasar bagi 70 ribu ton beras dari negara lain, pengurangan tarif impor beras dan gula mulai 2001 dan final pada tahun 2010. serta menurunkan tarif import bahan pangan yang awalnya 10-15% hanya sekitar 5%; dan tarif 40% keatas hanya 10%. Ini berarti bahwa Indonesia telah berkomitmen untuk menyokong dan memajukan proses liberalisasi perdagangan).

Dalam situasi ini, hingga memaksa menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu untuk turun langsung dalam mengatasi persoalan kenaikan harga cabai tersebut. Dalam siaran pers_nya, Menteri menyatakan bahwa naiknya harga cabai tersebut merupakan trent tahunan dalam perdagangan, selain tren tahunan faktor cuaca ekstrim juga mempengaruhi kenaikannya, sehingga tanaman cabai yang seharusnya panen mengalami gagal panen. Selain faktor cuaca, faktor memasuki hari besar/hari raya juga sering menjadi alasan dalam kenaikan harga komoditas pangan. Kedua faktor di atas, tidak dapat dipungkiri lagi, memang sangat mempengaruhi pasokan barang sembako dan harganya. Akan tetapi, ada satu faktor yang sangat kunci dan tidak pernah disebutkan oleh pemerintah, yaitu penyerahan harga sembako pada mekanisme pasar.

Pada kenyataannya, seringkali terjadi barang pokok itu mengalami surplus, dan harganya sangat murah di tingkat produsen, tetapi di pasar harganya sangat tinggi. Seperti terjadi di Pekanbaru, Riau, misalnya, ketika harga sayur di pasar sedang melonjak naik, harga jual sayur para petani justru merosot, yaitu dari harga Rp 600-700 perikat menjadi Rp 400-500 perikat.

Begitu juga dengan harga beras, yang momen kenaikan harganya justru bersamaan dengan saat produksi beras mengalami surplus. data Biro Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, tahun 2009 terjadi produksi 65-68 Gabah Kering Giling (GKG) setara dengan 40-41 juta ton beras. Sementara itu, konsumsi nasional, dari rumah tangga dan industri sebesar 30,25 juta ton beras. Dengan demikian, terjadi surplus beras di dalam negeri sebesar 8-9 juta ton. Tetapi dengn keadaan surplus tersebut, seharusnya sudah tidak ada lagi masyarakat yang dengan susah payah mengkonsumsi beras, tidak perlu lagi mengkonsumsi nasi aking, singkong, ketela dll. Disatu sisi, program yang beberapa bulan lalu dicanangkan one day without rice atau sehari tanpa nasi tidak perlu dilanjutkan lagi hingga kebutuhan akan pangan masyarakat dapat dipenuhi.

Itulah mengangap kenaikan harga produk pertanian, seperti bawang, cabe, dan beras, tidak membawa keuntungan apapun bagi petani. Para petani tetap dipaksa menjual komoditi pertanian mereka dengan harga yang dipatok rendah, tetapi mekanisme pasar telah melambungkan harganya berkali-kali lipat. Padahal, masalah harga sembako merupakan isu yang sangat vital, terutama karena menyangkut soal perut ratusan juta rakyat. Seharusnya, dengan berbagai potensi sumber daya yang kita miliki, rakyat kita tidak perlu menjerit karena kenaikan harga sembako.

Oleh karena itu, sudah saatnya pemerintah turun tangan untuk mengendalikan pasar, terutama mengatur distribusi dan harga kebutuhan pokok.

Oleh: Imam Munawir
*Imam Munawir adalah Warga Klaten yang tinggal di BAli

.


Tags:
Categorised in: ,

No comment for Rasa Cabai Tak Sepedas Harganya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *