Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » FITUR » Produktivitas Padi Sawah Kabupaten Klaten Terendah Di Jawa Tengah

Produktivitas Padi Sawah Kabupaten Klaten Terendah Di Jawa Tengah

(96 Views) April 5, 2013 4:59 pm | Published by | 2 Comments

persawahanSejarah pernah mencatat Klaten berpredikat sebagai lumbung padi dan berjaya di era 1970-an. Kejayaan dan ketenaran tersebut ditopang brand imej beras “rojolele” nya di zaman tersebut. Kebanggaan warga masyarakat Klaten terkait dengan usaha pertanian pangan, khususnya padi sawah saat ini telah  hilang dan berputar seratus delapan puluh derajat.

Menurut BPS Klaten, bahwa pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB) tahun 2011, pada sektor pertanian di kabupaten Klaten mengalami minus 12,19 %. Yang mencengangkan rerata produktivitas padi sawah dari  55,48 kuintal per hektar pada tahun 2010, turun menjadi 43,19 kuintal/ha pada 2011. Dengan angka tersebut, BPS provinsi Jawa Tengah menyatakan bahwa produktivitas padi sawah kabupaten Klaten 43,19 kuintal/hektar merupakan produktivitas terendah dibanding 34 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Sedangkan produktivitas yang tertinggi diraih kabupaten Brebes yakni 65,19 kuintal per hektar. Angka produktivitas Klaten juga berada dibawah rerata produktivitas padi sawah di Jawa Tengah yang mencapai 54,47 kuintal/hektar. Produktivitas adalah besaran produksi yang diperoleh dalam satuan waktu dan luas tertentu. Produktivitas akan menjadi salah satu faktor penentu perolehan total produksi padi .

Menurunnya pertumbuhan PDRB dan produktivitas  padi sawah di kabupaten Klaten yang berujung menjadi juru kunci dalam hal produktivitasnya, salah satu penyebabnya adalah keterbatasan air irigasi pada musim kemarau. Ketidaktersediaan air irigasi yang cukup bedampak pada berkurangnya indeks pertanaman dan menurunkan produktivitas saat panen. Disamping berkurangnya debit air, kehilangan air akibat penguapan dan kebocoran karena jeleknya infrastruktur irigasi juga menjadi faktor penyebabnya. Sebagaimana dijelaskan kadus I Kadilaju Agus kepada kontributor Klaten Info , bahwa jaringan irigasi yang ada diwilayahnya merupakan bangunan peninggalan zaman Belanda. Sebagian besar telah rusak dan baru ada upaya pembuatan bendungan irigasi pada tahun 1968. Bendungan irigasi “Gayam Sewu” tersebut membendung kali Gede yang didukung pembiayaannya oleh Tri Desa, yakni Kadilaju,Tambakan dan Joton.petani-dan-traktor

Sarana irigasi yang memadai merupakan salah satu kebutuhan vital saat ini dan kedepan. Oleh karena itu guna mendukung keberhasilan peningkatan produksi  pertanian tanaman pangan khususnya pada lahan basah atau sawah pemerintah kabupaten Klaten memprioritaskan kegiatan rehabilitasi atau pemeliharaan jaringan irigasi didaerah hulu diantaranya di wilayah kecamatan Karangnongko dan Kemalang, tepatnya di desa Kadilaju dan Keputran. Kegiatan dengan volume 28 paket rehabilitasi sarana irigasi sumber pembiayaan pembangunannya berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) dan pendampingan APBD kabupaten Klaten tahun anggaran kemarin sebesar Rp 87.400.000,00 (delapan puluh tujuh juta empat ratus ribu rupiah).

Sumber air irigasi ini berhulu di wilayah desa Keputran kecamatan Kemalang yakni mata air Pakel  dan Gatak, kemudian ditambah Blumbang, Tanjung, Tepen, Wuni dan  Beran yang berlokasi di padukuhan Kalikajar, kecamatan Karangnongko. Setelah menyatu dalam Dam Gayamsewu air ini akan dijadikan air irigasi persawahan yang luasnya mencapai 413,1 hektar, mencakup sekurang-kurangnya  tiga wilayah kecamatan yakni Kemalang (Keputran=54,1ha), Karangnongko (Kadilaju= 127 ha) , dan Jogonalan (Tambakan =124 ha dan Joton 108 ha). Agar air permukaan ini tidak hilang akibat kebocoran dan evaporasi maka  dilakukan  pemeliharaan jaringan irigasi yang keberadaannya sudah tidak  memenuhi persyaratan teknis demikian dituturkan Joko dari DPU Klaten.

Salah satu petani pemakai air irigasi di bulak Karangeri  Paimo merasa  senang adanya pemeliharaan jaringan yang sangat penting itu, dengan cukupnya air irigasi nanti kami dapat menanam padi setahun tiga kali, sehingga produksinya dapat meningkat harapnya. Hal senada juga disampaikan Warno seorang petani dari desa Tambakan, kecamatan Jogonalan, merasa gembira apabila sarana irigasi diperbaiki mengingat areal persawahan yang berada diujung jauh dari hulunya sering tidak kebagian air jika banyak kebocoran, dan kehilangan air walaupun sudah ada jadwal pembagian, lebih-lebih pada saat musim kemarau. Selanjutya petani  pemanfaat air irigasi di tiga wilayah kecamatan ini berharap kedepan pemerintah  lebih memperhatikan pembangunan dan pemeliharaan infrastruktur jaringan  irigasi persawahan secara terencana dan berkelanjutan agar ketersediaan air lebih terjamin, sebagaimana disampaikan  Jumbadi  ketua Gapoktan di Kecamatan Karangnongko dan Sudarsono dari kecamatan Kemalang.

Dengan dibangunnya jaringan irigasi ketersediaan air bagi usaha pertanian pangan khususnya padi sawah diharapkan akan dapat meningkatkan produksi. Peningkatan produksi tersebut menyusul meningkatnya indeks pertanaman dari dua menjadi tiga kali pertahun. Disamping itu produktivitasnya juga dapat meningkat secara signifikan sebagaimana disampaikan Suryono Mantri Tani kecamatan Jogonalan. Lebih lanjut Mantri tani tersebut menjelaskan bahwa peningkatan produksi padi dipengaruhi berbagai faktor diantaranya: luas panen, produktivitas, pupuk, benih unggul, organisme pengganggu tumbuhan dan irigasi yang baik. Dengan selesainya jaringan irigasi tersebut mulai musim kemarau 2013 nanti para petani terutama di Jogonalan yang lokasinya paling jauh dari sumber air mengharapkan sudah tidak kesulitan memperoleh air irigasi lagi.

Guna mengantisipasi kesulitan air irigasi saat kemarau Dinas Pertanian Klaten juga telah melaksanakan kegiatan peningkatan prasarana infrastruktur pertanian, berupa pengadaan konstruksi jaringan irigasi tanah dangkal di desa Tambakan, kecamatan Jogonalan. Kegiatan ini dibiayai dari dana alokasi khusus (DAK) kabupaten Klaten senilai Rp 44.643.000,00 (empat puluh empat juta enam ratus empat puluh tiga ribu rupiah).

Mengingat irigasi hanya menjadi salah satu unsur dalam peningkatan produksi dan produktivitas padi sawah, masyarakat petani berharap pemerintah kabupaten Klaten segera mengadakan evaluasi kebijakan dalam pembangunan pertanian secara menyeluruh, terencana dan berkelanjutan agar tidak tertinggal ditataran Jawa Tengah. Ketika petani dapat merasakan kemanfaatan dan keuntungan dalam berusahatani, tentu gairah bertani akan tergugah.

 Oleh  : Kiswanto

Tags:

produktivitas padi sawah produksi sawah per hektar 2013 jateng satuan produktivitas padi

Tags: ,
Categorised in: ,

2 Comments for Produktivitas Padi Sawah Kabupaten Klaten Terendah Di Jawa Tengah

  • tyas says:

    emak gw 4x musim gagal panen gara2 tikus, daerah polanharjo,
    eh tp keren loh beras dlanggu terkenal dmn2..

    • kiswanto adinegara says:

      @ tyas , eksplosi hama tikus dan OPT yang lain disebabkan adanya perubahan iklim,..maka optimalisasi pengendalian organisme pengganggu tumbuhan perlu ditingkatan agar petani klaten tidak merugi,salah satunya untuk pengendalian tikus adalah dengan menggunakan musuh alami yakni Tyto alba (burung hantu)…iya satu sisi menjadi kebanggaan dan dilain nya menjadi tantangan ,kita dorong agar beras delanggu tetap terkenal dan dapat meningkatkan kesejahteraan petani…terima kasih responnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *