Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » KLATEN » Letusan Merapi Sabtu dini hari, Pengungsi membeludak

Letusan Merapi Sabtu dini hari, Pengungsi membeludak

(62 Views) October 31, 2010 6:35 am | Published by | No comment

Dommm…,” begitu suara yang terdengar dari puncak Merapi, Sabtu (30/10) dini hari. Keras, menggelegar, mengagetkan dan pastinya membuat panik siapa saja yang mendengarkan. Terutama para warga di lerang Merapi.

“Semua warga berlarian ke lapangan ketika Merapi meletus dengan bunyi letusan menggelegar itu,” kisah Camat Kemalang, Klaten, Suradi, kepada wartawan, di Kemalang. Letusan Merapi Sabtu dini hari juga membuat panik warga di luar kawasan rawan bencana (KRB). Mereka larut dalam kepanikan. Berlomba-lomba menyelamatkan diri, lari, maupun mengendarai kendaraan bermotor menjauh Merapi. Mencari tempat aman dari amukan Merapi.

Lapangan Keputran dan Lapangan Dompol yang jadi tempat pengungsian di kawasan Kemalang, Sabtu pagi tak mampu lagi menampung lonjakan pengungsi di wilayah itu.

Jumlah pengungsi membeludak 300% hingga Posko pengungsian di Lapangan Keputran dan Dompol tak sanggup lagi menampung.

Suradi menyebut jumlah pengungsi di pagi hari itu mencapai 8.000 jiwa lebih. Padahal, biasanya sebelum letusan Sabtu, jumlah pengungsi berkisar 2.000-2.500 orang di Keputran. Mereka yang berbaur di lokasi pengungsian tersebut berasal dari Desa Tlogowatu, Tangkil, dan Bumiharjo yang selama ini dinyatakan bebas dari bencana Merapi. “Kerasnya suara letusan dengan abu vulkanik yang sampai ke rumah mereka, membuat mereka panik dan ikut mengungsi.”

Hal serupa juga terjadi di Posko Dompol, jumlah pengungsi melonjak 100%. “Kami bahkan mendirikan dua tenda lagi,” kata Koordinator Teknis Forum Merapi, Eddy Santosa.

Salah satu warga Tlogolele, Suyanto memilih mengungsi lantaran ada kekhawatiran letusan Merapi hingga ke permukiman mereka.

Tak beda jauh di Boyolali. Ribuan warga di tiga desa di Selo, Sabtu diungsikan ke sejumlah tempat yang aman. Ketiga desa itu yakni, Tlogolele, Desa Jrakah dan Klakah. Selain Kecamatan Selo, sebanyak 130 orang warga Desa Wonodoyo, Kecamatan Cepogo, memilih mengungsi ke Pendapa Pemkab Boyolali, karena ketakutan mendengar gemuruh dari puncak Merapi dan mencium bau belerang dari puncak Merapi.

Ribuan warga itu diungsikan di tempat pengungsian akhir di Lapangan Samiran, Selo dan aula Kecamatan Selo dan sebagian di SMPN 1 Sawangan dan lapangan Sawangan, Kabupaten Magelang. Dari pantauan Espos, Sabtu, di Lapangan Desa Samiran, ribuan pengungsi dari Dukuh Sumber, Bakalan dan Bangunsari, Desa Klakah serta Dukuh Sepi, Desa Jrakah menempati 11 tenda yang disiapkan dan aula kecamatan Selo.

Sedang, warga di Desa Tlogolele dan Dukuh Klakah Duwur, Klakah Tengah dan Klakah Ngisor, Desa Klakah mengungsi ke Sawangan, Kabupaten Magelang. Hingga Sabtu siang, para pengungsi lebih memilih untuk bertahan di tempat pengungsian. Hal itu berbeda saat terjadi letusan pada Selasa (26/10).

Hanya beberapa pengungsi yang pulang untuk mengurus hewan ternak dan mengambil pakaian. Bahkan warga memilih mengungsikan ternak ke rumah sanak famili.

Sementara, di Desa Tlogolele, tampak sepi. Hanya beberapa warga mengurus rumah dan hewan ternaknya. Menurut Kades Tlogolele Budi Harsono langkah melakukan pengungsian itu dilakukan, karena letusan Merapi sangat dahsyat. Senada, Kades Klakah, Slamet mengatakan, sebetulnya ada dua dukuh di wilayahnya yang masuk KRB III. Kedua dukuh itu masing-masing Bakalan dan Sumber. Namun karena letusan Merapi yang sangat dahsyat, jelas Slamet, akhirnya warga di enam dukuh di Klakah diungsikan ke tempat yang lebih aman. – Oleh : Aries S, Ahmad Mufid A

Disalin dari: SOLOPOS, Edisi : Minggu, 31 Oktober 2010 , Hal.1


Tags:

vidio kepanikan warga sawangan magelang saat erupsi merapi 2010 com

Tags:
Categorised in: ,

No comment for Letusan Merapi Sabtu dini hari, Pengungsi membeludak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *