Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » FITUR » Pengendalian Hama Tikus Di Klaten Dengan Pendekatan Ekologi (Burung Hantu)

Pengendalian Hama Tikus Di Klaten Dengan Pendekatan Ekologi (Burung Hantu)

(98 Views) December 22, 2012 10:59 am | Published by | No comment
Pengendalian Hama Tikus Dengan Burung Hantu

ilustrasi

Klaten – Tikus merupakan hama utama pada berbagai tanaman pangan dan perkebunan. Pada pertanaman pad, tikus menempati urutan pertama dari semua jenis hama. Pengendalian hama tikus selama lebih 40 tahun terakhir masih didominasi dengan penggunaan rodentisida, meskipun telah disadari berbagai kelemahan dan efek sampingnya yang negatif.  Tikus bersifat omnivora dan menjadi hama semua tanaman dan menyerang semua stadia pertumbuhan tanaman mulai dari pembibitan, fase vegetative, generative, bahkan merusak sampai di gudang penyimpanan, demikian rilis Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Kementrian Pertanian Republik Indonesia.

Demikian  yang terjadi akhir-akhir ini tikus kembali menyerang tanaman padi di wilayah kabupaten Klaten, sebagaimana data dari Dinas Pertanian Klaten sekurangnya seluas 503 hektar pertanaman padi telah diserang tikus, tersebar pada 11 kecamatan diwilayah kabupaten Klaten. Sementara tanaman padi seluas 1.177 ha  potensial terancam diserang dan 157 ha telah mengalami gagal panen sehingga dinyatakan puso. Sebaran luas serangan hama tikus diberbagai kecamatan meliputi Juwiring 219 ha, Karanganom 84 ha, delanggu 83 ha, Wonosari 67 ha, Karangdowo 18 ha, Polanharjo 16 ha, Karangnongko dan Pedan masing-masing 5 ha dan untuk Tulung, Manisrenggo dan Ngawen masing-masing 2 ha.

Upaya yang dilakukan oleh petani selama ini untuk mengatasi serangan hama tikus antara lain dengan meracun dengan rodentisida. Disamping itu secara manual masyarakat masih sering melaksanakan gerakan menangkap tikus, dengan metode “gropyokan”. Sebagaimana dilakukan masyarakat petani di desa Jurangjero, kecamatan Karanganom belum lama ini yang mendapat perhatian dan dihadiri Bupati Klaten Sunarna. Namun dari gropyokan yang lazimnya dilakukan secara temporer dan tidak berkelanjutan serta serentak berbarengan dengan wilayah lain, menyebabkan hasilnya kurang optimal.

Saat ini sistem pengendalian berdasarkan pendekatan ekologi dengan pemanfaatan musuh alami mulai dirintis di Klaten, meskipun lebih lambat dibanding dengan pengendalian terpadu terhadap hama tanaman dari kelompok serangga. Keberhasilan dalam pengendalian tikus melalui pendekatan ekologi diperlukan pengetahuan tentang bioekologi hama tikus. Sebenarnya berbagai bioekologi tikus telah diketahui, antara lain meliputi perilaku dan preferensi makan, perilaku sosial, migrasi, pertumbuhan populasi dan musuh alami dari spesies tertentu. Pertimbangan penting mengapa sistem pengendalian berdasarkan pendekatan ekologi disamping menghindari resistensi tikus terhadap rodentisida antikoagulan (racun kronis) generasi pertama dan kedua, adalah mempunyai beberapa tujuan.

Tujuan pengendalian hama tikus berdasarkan pendekatan ekologi meliputi:

pertama, meminimalisir efek jelek dari metode lama terhadap spesies bukan sasaran dan fungsi lingkungan,
kedua mengembangkan pendekatan yang ekonomis bagi pengguna akhir teknologi, dan
ketiga berkelanjutan serta berefek positif jangka panjang.

Dari beberapa pendekatan pengendalian secara ekologis  pemerintah provinsi Jawa Tengah mempertimbangkan penerapan kebijakan pemanfaatan musuh alami. Melalui Badan Koordinasi Penyuluhan (Bakorluh) Pertanian, Perikanan dan Kehutanan provinsi Jawa Tengah, tengah mengembangkan pemanfaatan Tyto alba (burung hantu)  untuk pengendalian hama tikus di Jawa Tengah. Kebijakan ini berdasarkan pengalaman dan kajian pemanfaatan Tyto alba untuk pengendalian hama tikus di beberapa daerah di Indonesia, termasuk pada pertanaman padi telah memberikan hasil yang  baik. Contoh keberhasilan penerapan kegiatan ini sebagaimana dilaksanakan di kabupaten Demak.

Untuk mengawali upaya pengendalian hama tikus melalui pendekatan ekologi di kabupaten Klaten beberapa waktu yang lalu telah diselenggarakan sosialisasi dan pelatihan teknis pengendalian tikus dengan menggunakan Tyto alba di kecamatan Delanggu. Pada kesempatan tersebut telah diserahkan bantuan dua ekor burung hantu, jantan dan betina untuk dikembangkan sebagai predator, kepada Dinas Pertanian kabupaten Klaten, demikian dijelaskan Kepala Bidang Pengembangan SDM, Badan Kordinasi Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan  provinsi Jawa Tengah, Sumiyarso kepada contributor Klaten Info.

Tyto alba atau burung hantu putih ini spesies Serak Jawa, yang berukuran besar sekitar 32 – 40 sentimeter, berat badan antara  470 – 570 gram, wajahnya berbentuk seperti jantung, bulunya lembut warna  putih ditepinya kecoklatan, dan kedua matanya menghadap kedepan. Bagian atas bulu tubuhnya berwarna kelabu terang dengan sejumlah garis gelap dan bercak pucat tersebar pada bulu. Pada sayap dan punggung tampak mengkilat, bagian bawah berwarna putih dengan sedikit bercak hitam atau juga terkadang tidak ada. Bulu pada kaki jarang-jarang, kepala besa, kekar dan membulat. Berparuh tajam menghadap kebawah dengan warna keputihan, sedangkan kaki berwarna putih kekuningan hingga kecoklatan.

Kemampuan sepasang burung hantu atauTyto alba menjaga areal persawahan yang ditanamai padi  adalah seluas  2 – 3 hektar. Sebagai predator terhadap hama tikus, sepasang Tyto alba mampu memangsa  hingga 8 ekor tikus. Untuk mengembangkan perlu dibuat rumah burung  hantu yang sering disebut rubuha didekat areal persawahan.

Oleh : Kiswanto
Sumber Gambar: http://www.flickr.com/photos/38971900@N08/7187616543/

Tags:

burung hantu pengendalian hama tikus jenis burung hantu

Tags:
Categorised in: ,

No comment for Pengendalian Hama Tikus Di Klaten Dengan Pendekatan Ekologi (Burung Hantu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *