Meski pasir dijual murah, pembeli tetap sepi

Oleh dipublikasikan tanggal Feb 12th, 2011 pada kategori KLATEN, MASYARAKAT.


Limpahan pasir yang dimuntahkan dari puncak Merapi justru membuat pengusaha pasir berizin di Klaten kelimpungan. Pasokan pasir yang tumpah ruah ternyata tak berimbang dengan permintaan pasar. Akibatnya, ratusan buruh terpaksa dirumahkan. Sebagian banting setir dan memulai usaha baru dengan sisa semangat yang masih tersisa.

Demikianlah saat hukum pasar sekaligus seni berwirausaha diuji. Sebab, ketika permintaan tak sebanding dengan pasokan, maka yang terjadi adalah turunnya daya tawar. “Harga pasir sekarang menyentuh titik terendah, yakni Rp 40.000/m3,” kata Siswanto, salah satu pengusaha pasir yang menggerakkan Depo Pasir Sigit Jogonalan, , Kamis (10/2).

Sebelumnya, ketika Gunung Merapi menjelang erupsi, harga pasir di Klaten mencapai puncak keemasan. Satu meter kubik pasir, kata Siswanto, dihargai hingga Rp 100.000 atau setara 400.000/rit. Malahan, banyak pengusaha yang kekurangan stok karena langkanya pasir.

Kondisi tersebut berlangsung cukup lama. Sejumlah pengusaha perumahan pun banyak yang kelimpungan karena harga pasir melonjak tajam. Kini, setelah pasir Merapi melimpah situasi berbalik 180 derajat. Pengusaha perumahan berjingkrak-jingkrak, namun giliran pengusaha pasir tersenyum kecut.

“Dengan harga Rp 40.000/m3, maka satu bak truk pasir hanya Rp 160.000. Padahal, dulu satu bak truk pasir bisa mencapai Rp 400.000, kalau ke tangan konsumen langsung bisa mencapi Rp 900.000/rit.”

Dengan kondisi seperti itu, pengusaha depo pasir akan terasa sulit untuk keluar dari ancaman gulung tikar. Sebab, rata-rata pembeli saat ini rupanya sudah tak mau lagi ke depo pasir jika menginginkan pasir. “Mereka memilih ke sungai langsung dengan harga lebih murah. Sehingga, depo pasir hanya mengandalkan pembeli dari luar Soloraya dan luar DIY,” terangnya.

Tentu saja pembeli pasir dari luar Soloraya dan luar DIY tak selamanya setia. Praktis, jika tak ada pembeli Siswanto pun harus rela berpangku tangan tanpa penghasilan. Padahal, kami harus bayar sewa lahan Rp 8 juta/tahun,” keluhnya. – Oleh : Aries Susanto

Disalin dari: SOLOPOS, Edisi : Jum’at, 11 Februari 2011 , Hal.V





Leave a Reply

TV Klaten Video Klaten Lowongan Kerja Klaten Iklan Klaten Jasa Pembuatan Website Klaten Pusat Souvenir Klaten

Berita Terbaru

Wahana Kampung Dolanan Tradisional di Kompleks Candi Prambanan

Klaten – Taman Wisata Candi Prambanan tidak lagi diasosiasikan dengan tempat wisata bagi orang dewasa saja. Dengan adann...

MWC NU Kecamatan Tulung Gelar Salat Gaib bagi Almarhum Husni Kamil Malik

Klaten – Atas perintah dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Tulung, Klaten, meng...

Libur Lebaran, Ruas Jalan Menuju Candi Prambanan Dilanda Kemacetan

Klaten – Kemacetan yang tidak lazim terjadi mulai dari ruas jalan di depan pabrik susu SGM Kemudo menuju ke arah Candi P...

Warung Garang Asem Mbah Rono; Tempat Singgah yang Menyenangkan bagi Para Pemudik

Klaten – Bagi para pemudik lebaran, perjalanan mudik ke kampung halaman tidak ubahnya adalah sebuah perjalanan wisata, t...

Lebaran Diwarnai Kemacetan Arus Mudik dan Kecelakaan

Klaten – Lebaran tahun ini diwarnai oleh kemacetan jalur arus mudik dan kecelakaan yang menewaskan dua pengendara motor ...

Polisi Klaten Memperketat Mapolres Pasca Ledakan Solo

Peristiwa ledakan bom bunuh diri yang terjadi di halaman Mapolres Kota Solo Selasa (5/7) kemarin memaksa berbagai pihak ...

Bantuan WOM Finance Untuk UKM Start Up Klaten

Klaten termasuk salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang banyak memiliki talenta pengusaha UKM. Dari beberapa jenis kera...

Sanksi Untuk PNS Klaten Yang Bolos Pasca Libur Lebaran

Hari Raya Idul Fitri 1437H yang akan jatuh pada hari Rabu, 6 Juli 2016 tidak hanya disambut dengan sukacita oleh seluruh...

SUKA KLATEN.INFO?