Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » KLATEN » Lahar dingin ancam 6 desa di Klaten

Lahar dingin ancam 6 desa di Klaten

(41 Views) November 3, 2010 10:08 pm | Published by | 1 Comment

Klaten (Espos) Sedikitnya enam desa di Kecamatan Manisrenggo, Klaten terancam terjangan lahar dingin menyusul aliran lahar dingin ke Kali Woro dari Gunung Merapi.

Keenam desa tersebut Desa Kepurun Barat, Ngemplak Seneng, Sapen, Kecemen, Sukorini dan Desa Borangan. Pemerintah Kecamatan Manisrenggo mengambil langkah antisipatif.

”Dari enam desa tersebut, jika terjadi pengungsian, setidaknya ada 4.000 hingga 5.000 jiwa,” kata Camat Manisrenggo, Gandung Wahyudi, kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (2/11).

Pihaknya membentuk tim relawan di 16 desa. Para relawan ini, posisinya tinggal menunggu komando. ”Jika sewaktu-waktu terjadi evakuasi, mereka siap terjun ke lapangan,” tandasnya.

Gandung mengaku telah mendengar kabar ancaman lahar Merapi mulai mengarah ke Kali Woro. Terkait hal itulah, maka pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada tokoh masyarakat setempat.

”Selain itu, mereka juga melakukan edukasi kepada masyarakat agar jika tiba-tiba dievakuasi tidak ada masalah dan tidak terjadi korban jiwa,” ujarnya.

Jika terjadi evakuasi, kata Gandung, ada lima desa yang harus menjadi prioritas, yakni Desa Kepurun Barat karena ancaman lahar dingin dari Kali Gendol, Desa Ngemplak Seneng, Sapen, Kecemen dan Borangan.

”Kami katakan paling berisiko bencana karena desa ini berada di bibir kali. Sehingga, warga yang di sanalah yang menjadi prioritas dievakuasi,” lanjutnya. Dia menuturkan kondisi tanggul yang selama ini menjadi pembatas dan penyelamat kawasan itu juga rusak. ”Tanggulnya rusak parah, bahkan sudah pedot-pedot, sehingga seakan-akan tanggul tersebut sudah rapuh dan tak berfungsi jika ada ancaman banjir air maupun lahar.”

Pihaknya juga membuat skenario evakuasi. Tempat yang dipersiapkan sebagai lokasi pengungsian adalah tanah lapang di Bumi Perkemahan (Buper) Kepurun.

Dia menceritakan, pada 1969, wilayah Manisrenggo pernah dilanda lahar dingin. Hantaman lahar dingin tersebut menghabiskan warga satu dukuh yakni Dukuh Glenggan, Desa Borangan.

”Kami seperti dalam kondisi trauma, pengalaman masa kecil itu jangan sampai terjadi lagi. Karena rumah saya juga berada di pinggir Woro,” tandasnya.

Sementara, awan panas atau wedhus gembel disertai guguran material vulkanik pada Selasa, terhitung mulai sekitar pukul 06.30 WIB hingga pukul 07.30 WIB telah muncul delapan kali.

Meski demikian beberapa pengungsi di Keputran, Kecamatan Kemalang, Klaten nekat pulang untuk merawat ternak dan merumput. Berdasarkan pengamatan Espos di lokasi pengungsian Keputran, beberapa warga kembali ke rumah mereka di Desa Sidorejo, Tegalmulyo dan Kendalsari.

Sementara itu, aktivitas vulkanik Gunung Merapi pada Selasa pagi hingga petang menurun, namun beberapa kali semburan awan panasnya tetap mengkhawatirkan. Pada Selasa sore, Merapi tercatat dua kali menyemburkan awan panas dari puncaknya yang lebih besar dibandingkan Selasa pagi meski tidak sampai menimbulkan kepanikan warga Desa Sumber, Dukun, Magelang.

Menurut petugas pemantau Gunung Merapi Pos Krinjing, Kecamatan Dukun, Yulianto, dua kali semburan Selasa sore itu tidak disertai dengan letusan yang terdengar hingga pos pemantauan.

Kekuatan semburannya juga lebih kecil dibandingkan letusan Senin (1/11) pagi. Sampai saat ini, status Merapi masih Awas, level tertinggi tingkat bahaya letusan gunung. Pemantauan aktivitas Gunung Merapi saat ini tinggal mengandalkan alat seismik karena semakin menurunnya gempa vulkanik dan efek letusan Merapi kini tidak lagi eksplosif, dan suara dentuman juga jarang terpantau.

”Indikator hasil pemantauan yang kini hanya mengandalkan pemantauan seismik, hingga siang ini (kemarin-red), tercatat gempa vulkanik 18 kali dan luncuran awan panas sebanyak 11 kali terpantau dari sejumlah pos pemantauan,” kata Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Sukhyar di Yogyakarta, Selasa.

”Letusan Merapi tidak lagi eksplosif, kami melihat magma sudah mulai keluar dan jadi awan panas serta guguran material, harapannya ini menandakan makin kecil energi Gunung Merapi. Meski masih ada letusan, guguran material dalam jumlah kecil saja,” paparnya.

Sedangkan untuk volume material yang dikeluarkan Gunung Merapi diperkirakan sudah mencapai sebanyak 11 juta m3 dari hasil erupsi Selasa (26/10) dan Sabtu (30/10) lalu. Ia mengatakan indikasi gelombang rendah atau low frequency (LF) menandakan adanya pergerakan magma ke permukaan lebih mudah. – Oleh : asa/mkd/Ant

Disalin dari: SOLOPOS, Edisi : Rabu, 03 November 2010 , Hal.1


Tags:

pemantauan status gizi di kecamatan kebonarum kab klaten

Tags:
Categorised in: ,

1 Comment for Lahar dingin ancam 6 desa di Klaten

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *