Kisah Pilu Mbah Dablok Yang Terasing Dari Keramaian

Oleh dipublikasikan tanggal Oct 20th, 2014 pada kategori KLATEN, OPINI.


Klaten ~ Masih sering terdengar dan lazim adanya cerita sejumlah suku yang hidup terasing ditengah hutan belantara utamanya di luar pulau Jawa. Namun sungguh ironis di pulau Jawa , provinsi Jawa Tengah ,kabupaten Klaten tepatnya di kecamatan Manisrenggo ternyata masih dijumpai seorang perempuan tua hidup terasing dari komunitas sosial dan hiruk pikuk keramaian serta kemajuan zaman. Tulisan ini sengaja penulis buat dalam rangka peringatan dua warsa tergabung dan berkontribusi pada portal berita on line www.klaten.info , sekaligus mengangkat kepedulian sosial terhadap harkat dan martabat warga miskin kurang beruntung yang terpinggirkan.

Respek penulis dimulai beberapa bulan silam ketika berjalan mencari jalur alternatif menyusuri tanggul Kali Woro saat sungai itu banjir besar lahar dingin pasca Merapi Erupsi 2012 sehingga akses jembatan Junut tidak berfungsi.

Di tepian tanggul sisi timur Kali Woro ,tepatnya di bulak wetan padukuhan Kedusan ,desa Borangan ,kecamatan Manisrenggo penulis kaget melihat ada sebuah rumah kecil kurang layak huni ada penghuni didalamnya. Sebelum investigasi penulis mencari informasi pada warga sekitar tentang keberadaan rumah yang berdiri sendirian nir tetangga ,berada jauh dari pemukimam penduduk karena dipisahkan oleh lebarnya Kali Woro itu.

Rumah Mbah Tugiyem dipinggir tanggul kali Woro

Rumah Mbah Tugiyem dipinggir tanggul kali Woro

Informasi awal dari Warni seorang warga setempat menuturkan bahwa penguni rumah di tengah bulak persawahan pinggir tanggul Kali Woro itu bernama mbah Dablok. Warga sekitar telah mengenalnya , konon sejak kades Sepuh Borangan dahulu ,sebelum Sarman dan Pitoyo menjabat mBah Dablok diasingkan dengan cara dibuatkan rumah ‘dinas’ dan dipaksa menempatinya jauh dari pemukiman serta keramaian.

Keputusan itu diambil atas laporan warga karena mBah Dablok dinilai kurang waras alias edan ,sehingga sering berperilaku mengganggu ketenteraman masyarakat Kedusan yang berada dikulon tanggul dimana ia berasal. Berbekal referensi itu ,penulis penasaran dan bertekad menemui mBah Dablok secara langsung kendatipun ada perasaan was-was berhadapan dengan orang kurang waras. Akhirnya pada hari Senin Kliwon ( 13/10 ) pagi sekitar pukul 7.41 WIB penulis berhasil menemui dan mewanwancarai secara eksklusive.

Saat penulis datang didekat rumah gubug itu tiba-tiba muncul sosok perempuan tua bertubuh kecil berlari agak agresif. Ia hanya mengenakan kutang dan berbalut kain jarik lusuh langsung  menemui penulis sambil bicara bersemangat  “ nyuwun dhuwit pak kangge tumbas beras “ katanya membuka pembicaraan dengan bahasa Jawa krama cukup santun.
Dengan sambutan demikian justru mementahkan dugaan penulis yang mengira mBah Dablok sulit dan kurang bersahabat dengan orang yang belum dikenalnya.

Kemudian kami  berkenalan secara langsung ,ternyata nama asli mBah Dablok adalah Tugiyem.Ia mengaku cucu dari mBah Ranu dan anak dari Pairo Kenul  di Kedusan seberang kali Woro.

Perempuan sembilan puluh tahunan tidak bersuami dan beranak itu menempati rumah di tepi tanggul ini  telah cukup lama , ia tidak bisa mengingat tahun kapan  hanya ber ancer-ancer  kepindahannya dari padukuhan Kedusan hingga kini saat pohon munggur  depan gubugnya yang berdiameter  sekitar  45 sentimeter itu masih kecil.
Penulis menduga sekitar  20 tahun lalu. Mbah Dablok hidup sebatangkara ,orang tua dan kakek neneknya telah tiada .Ia mengaku punya saudara perempuan bernama mBah Muji yang dulu sering menemani tapi kini tinggal di Sumatera. Hingga kini perempuan uzur itu hidup  dengan ditemani seekor anjing berbulu coklat yang setia pada tuannya.

Rumah kecilnya kalau malam hanya diterangi senthir akunya , walaupun akhir-akhir ini ada inisiatif  warga menyambungkan listrik dari rumahnya .Jika memasak menggunakan bahan bakar kayu yang diperoleh dari pepohonan dan pelepah pohon pisang yang dikeringkan .
Bahan makanan mencari dengan cara mengasak sisa panen padi petani disawah , menjual dedaunan yang dicarinya ditanggul sementara air mengambil dari tengah kali Woro. Terkadang jika lagi beruntung ada kiriman makanan dari warga sekitar yang peduli dan sesekali dari pak Lurah memberinya raskin katanya.

Mbah-Dablok-nan-renta-hidup-sendirian

Mbah Dablok nan renta hidup sendirian

Saat wawancara memang terkesan ucapannya sering tidak konsisten ,namun mBah Dablok nampak sehat , bisa bicara secara jelas dan lantang.Ia sejatinya pingin bicara panjang lebar kendati tak ada juntrungnya namun serasa  tetap bersahabat.

Bahkan secara runtut dan santun dapat mengucapkan terima kasih dan mendoakan penulis beserta keluarga agar diberi kesehatan dan rezeki cukup dari Gusti Allah SWT ketika penulis berpamitan dengan bahasa jawa krama campuran yang fasih.

Trenyuh dan memprihatinkan melihat fakta kehidupan seorang makhluk Tuhan Allah SWT yang bernama  Tugiyem dalam kondisi terasing dari komunitas sewajarnya ,sebagai sebuah ‘hadiah’ hanya karena vonis ‘oon’ alias kurang waras dari sang penguasa.

Tidak ada harapan berlebih dalam hidupnya  kecuali sekedar  untuk menghabiskan hari tuanya menunggu kembali keharibaan sang Pencipta . Perempuan dengan kerutan didahi pertanda dimakan usia itu dengan suka rela tanpa protes tinggal dalam kesunyian hanya ditemani seekor satwa berjuluk anjing jantan nan setia menjaganya.

Semoga ,catatan kisah pilu ini menjadi inspirasi dan mendapat respon positif bagi yang mengaku memiliki hati nurani baik secara pribadi , komunitas , lembaga atau yang memiliki kewenangan agar peduli mengurusnya secara benar dan lebih manusiawi.

Waallahu ‘alam bishawaf.

Oleh : Kiswanto




Leave a Reply

TV Klaten Video Klaten Lowongan Kerja Klaten Iklan Klaten Jasa Pembuatan Website Klaten Pusat Souvenir Klaten

Berita Terbaru

Wahana Kampung Dolanan Tradisional di Kompleks Candi Prambanan

Klaten – Taman Wisata Candi Prambanan tidak lagi diasosiasikan dengan tempat wisata bagi orang dewasa saja. Dengan adann...

MWC NU Kecamatan Tulung Gelar Salat Gaib bagi Almarhum Husni Kamil Malik

Klaten – Atas perintah dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Tulung, Klaten, meng...

Libur Lebaran, Ruas Jalan Menuju Candi Prambanan Dilanda Kemacetan

Klaten – Kemacetan yang tidak lazim terjadi mulai dari ruas jalan di depan pabrik susu SGM Kemudo menuju ke arah Candi P...

Warung Garang Asem Mbah Rono; Tempat Singgah yang Menyenangkan bagi Para Pemudik

Klaten – Bagi para pemudik lebaran, perjalanan mudik ke kampung halaman tidak ubahnya adalah sebuah perjalanan wisata, t...

Lebaran Diwarnai Kemacetan Arus Mudik dan Kecelakaan

Klaten – Lebaran tahun ini diwarnai oleh kemacetan jalur arus mudik dan kecelakaan yang menewaskan dua pengendara motor ...

Polisi Klaten Memperketat Mapolres Pasca Ledakan Solo

Peristiwa ledakan bom bunuh diri yang terjadi di halaman Mapolres Kota Solo Selasa (5/7) kemarin memaksa berbagai pihak ...

Bantuan WOM Finance Untuk UKM Start Up Klaten

Klaten termasuk salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang banyak memiliki talenta pengusaha UKM. Dari beberapa jenis kera...

Sanksi Untuk PNS Klaten Yang Bolos Pasca Libur Lebaran

Hari Raya Idul Fitri 1437H yang akan jatuh pada hari Rabu, 6 Juli 2016 tidak hanya disambut dengan sukacita oleh seluruh...

SUKA KLATEN.INFO?