Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » KLATEN » Geliat pengrajin lurik ATBM (Bagian I) Mimpi jadikan Cawas sentra lurik

Geliat pengrajin lurik ATBM (Bagian I) Mimpi jadikan Cawas sentra lurik

(52 Views) October 26, 2009 7:24 am | Published by | No comment

Sikap terbuka, enerjik dan ramah Mbah Mangun Tinoyo, 62, menarik perhatian sebagian besar wartawan media cetak dan media elektronik yang mengikuti Tur lurik ATBM bersama massmedia dan pengusaha di sejumlah desa di Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, Sabtu (24/10).

Para pekerja pers itu banyak yang tak ingin melepaskan momentum saat Mbah Mangun yang tinggal di Dukuh Soka Desa Bogor melakukan aktivitas nyekir atau memintal benang.
Ibu tiga anak yang menjadi objek foto para pekerja pers itu dikenal warga di tempat tinggalnya sebagai perempuan yang bisa memotivasi orang-orang yang lebih muda untuk lebih kreatif. ”Saya itu sudah sejak kecil melihat orang menenun. Kalau mau belajar menenun harus telaten. Begitu tahu ada perkembangan kain lurik saya ikut belajar dan ikut membuat. Saya ingin bisa berkembang,” ucap Mbah Mangun.

Diakui Mbah Mangun, bukan perkara mudah dalam mengajak ibu-ibu pengrajin tenun ATBM untuk membuat lurik. Sebab, kata dia, kebanyakan ibu-ibu sudah terbiasa membuat lap makan atau selendang gendong. Pernyataan senada disampaikan Ketua Kelompok Pengrajin Bogor Sejahtera, Nanik.

Diakui Nanik, sejak ada pendampingan yang terlaksana atas kerja sama lembaga swadaya masyarakat (LSM) Gita Pertiwi Solo dan Kemitraan Australian Indonesia melalui program Yogyakarta Central Java Community Assistance Program (YCAP), perkembangan tenun di Desa Bogor semakin meningkat dengan semakin dikenal luas. ”Kendala yang dihadapi dalam mengembangankan lurik salah satunya yaitu ingin mengajak ibu-ibu ternyata masih susah. Belum semuanya mau untuk diajak membuat lurik. Mereka terbiasa membuat lap makan. Tapi, sedikit demi sedikit memang sudah banyak perempuan yang membuat lurik.”

Jaga mutu
Ditemui terpisah di Outlet & Workshop Najma di Dukuh Dadirejo Desa Tlingsing Kecamatan Cawas, pengrajin lurik ATBM, Miss Shobach, 40, mengakui, awalnya tidak tertarik dengan tenun. Perempuan yang semula menjadi guru di SDIT tersebut kemudian ikut membangkitkan lurik. Diakuinya, kehadiran Gita Pertiwi dan YCAP memotivasi dan memacu ibu-ibu untuk lebih mengembangkan kreativitas guna mendapatkan hasil yang lebih baik.
Salah seorang anak Mbah Mangun, Ny Sawiji, 43, mengaku, ibundanya selalu berusaha menjaga mutu produk yang dihasilkan. Dia mengisahkan, Mbah Mangun sudah menekuni dunia tenun sejak muda dengan membuat selendang gendong, sarung, lap makan dan kain polos. ”Sekitar tahun 1970, simbok pernah berhenti, kemudian jualan tembakau, tapi itu hanya kurang lebih dua tahun. Simbok kemudian menenun lagi. Ketika mulai berkembang kain lurik, simbok pun menejuninya sampai sekarang,” kata dia.

Ketua Panitia Festival Budaya Lurik ATBM, Titik Eka Sasanti mengatakan, sejak 2007 sampai saat ini, sudah ada 781 pengrajin lurik ATBM yang menerima manfaat langsung dari pendampingan yang difasilitasi LSM Gita Pertiwi Solo dan Kemitraan Australian Indonesia itu.
Titik menuturkan, ke-781 pengrajin luri ATBM itu tersebar di 12 desa di Kecamatan Cawas, yaitu Bogor, Tlingsing, Japanan, Balak, Tirtomarto, Mlese, Baran, Pakisan, Nanggulan, Bendungan, Kedungampel dan Karangasem. – Oleh : Nadhiroh

Disalin dari: SOLOPOS, Edisi : Senin, 26 Oktober 2009 , Hal.VII


Tags:

desa wisata kreatif cawas klaten Gambar payudara nyekir gadeng idul fitri di soka karangdowo

Tags:
Categorised in: ,

No comment for Geliat pengrajin lurik ATBM (Bagian I) Mimpi jadikan Cawas sentra lurik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *