Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » DAERAH » Gagasan Agropolitan Berbasis Komoditas Durian Di Kecamatan Kemalang

Gagasan Agropolitan Berbasis Komoditas Durian Di Kecamatan Kemalang

(66 Views) January 4, 2013 8:14 pm | Published by | No comment

Kiswanto

Kabupaten Klaten memiliki bentang alam yang terbagi dalam tiga zoning. Ketiga wilayah tersebut diselatan berupa perbukitan kapur, tengah berupa dataran berupa lahan pertanian basah dan zoning lereng gunung Merapi berada di utara. Kecamatan yang ada di zona  lereng gunung Merapi adalah Tulung, Jatinom, Karangnongko, Manisrenggo dan Kemalang. Masing-masing kecamatan tersebut memiliki potensi  di bidang pertanian sesuai agroekosistem spesifik yang dimiliki. Baik berupa komoditas tanaman pangan, peternakan, perkebunan dan hortikultura.

Kenapa di Kemalang ?

Kecamatan Kemalang dari segi  pertumbuhan ekonomi menurut BPS  2011, mengalami pertumbuhan minus 4,31 % dan khusus sektor pertanian minus 12,09%. Sektor penggalian yang ada kecenderungan merusak fungsi lingkungan justru menjadi andalan dan menyokong  PDRB sebesar  51,67%. Kecamatan Kemalang berpenduduk 35.442 jiwa, dengan kelompok umur terbesar yakni atara 25 – 29 tahun yang potensial urbanisasi, sebanyak 3.302 jiwa dan kelompok terkecil usia antara 60 – 64 tahun, yakni 1.311 jiwa. Kecamatan ini terdiri dari 13 desa yang berada di lereng bahkan sangat dekat dengan puncak Merapi seperti Balerante, Sidorejo, Tegalmulyo, Panggang dan Tlogowatu, merupakan kawasan rawan bencana II, sehingga mempunyai resiko besar jika terjadi  erupsi Merapi. Sebagian besar lahan berupa non sawah (98,95 %) dengan pertanian  lahan kering  seluas 1.848 ha (35,77%), hanya desa Keputran yang memiliki lahan  basah jumlahnya sangat kecil yakni 54,1 ha (1,05 %). Wilayah ini memiliki tinggi tempat antara 300 – 1000 m diatas permukaan laut, dengan  jumlah curah hujan 2.597 ml dan 121 hari hujan (BPS, 2011). Pada musim kemarau kekurangan air bersih menjadi langganan masyarakat. Namun dibalik weakness tersebut, wilayah ini merupakan catchment area penting, sebagai penangkap air hujan demi kelestarian sumber air yang ada dibawah.

Agroekosistem zone kecamatan Kemalang yang berada di lereng Merapi  sangat cocok untuk pengembangan komoditas hortikultura (tanaman hias, buah-buahan, sayuran dan biofarmaka). Komponen utama agroekosistem zone Kemalang dan sekitarnya meliputi iklim, tanah, fisiografi/bentuk wilayah, vegetasi dan penggunaan lahan serta social ekonomi masyarakat sangat mendukung. Khusus vegetasi spesifik yang telah terlihat sebagai komoditas andalan adalah durian, disamping rambutan, mangga, pete, nangka, pisang dan bunga mawar.

Budidaya durian memang belum dilakukan secara intensif oleh petani, tanaman yang ada sekarang berupa tanaman yang telah berumur puluhan tahun, tapi hasilnya sangat membantu pemenuhan kebutuhan masyarakat. Produksi durian  tahun 2011 sebesar 16.280 kuintal  naik signifikan dibanding 2010 sebesar  78,86%. Harga buah durian selama ini cukup stabil dan menjajikan, walaupun panen raya sekalipun. Sebuah durian harganya berkisar  Rp 10.000,- hingga Rp 50.000,-. Dengan asumsi harga per kilogram durian Rp 10.000,-, nilai produksi durian di Kemalang tahun 2011, sekurangnya telah memberikan pendapatan petani sebesar  Rp. 16.280.000.000,- (enam belas miliar dua ratus delapan puluh juta rupiah ). Dengan pengelolaan model agropolitan produksi tentu akan jauh lebih meningkat dan optimal.

Berdasarkan hal-hal didepan kiranya layak Kemalang sebagai lokus kawasan agropolitan. Potensi dan peluang ini belum ditangkap untuk sebuah “proyek” walaupun secara empiris dapat dipastikan memiliki prospek yang sangat cerah.

Pada era tahun 1990 an Kemalang pernah diorbit dan berjaya dengan destinasi pariwisata alam yakni Deles Indah, tapi satu dasa warsa terakhir pamor Deles kian ambles. Barangkali untuk mendongkrak PAD dari sektor keparwisataan di kabupaten Klaten yang hanya Rp. 900.000.000,00 (Sembilan ratus juta rupiah) pertahun, target 2012, mendesak, perlu greget  dan  komitmen merevitalisasi berbagai obyek wisata yang telah ada, salah satunya Deles Indah. Brand imej Deles yang berada di desa Sidorejo dengan ketinggian 700 m dpl ini sejatinya telah terbangun  dan memiliki pasar cukup luas di wilayah Solo Raya (eks karesidenan Surakarta) dan bahkan luar daerah seperti Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya. Ketenaran keelokan alam Deles tidak bisa terlepas dengan komoditas durian. Yang setidaknya setiap satu tahun sekali  pada saat musim durian banyak “wisatawan“ luar daerah berbondong-bondong ke pasar Kembang, Kemalang untuk berburu buah yang memang lezat dan harum itu. Artinya dari aspek pemasaran yang lazimnya jadi persoalan, justru disini sudah menjadi kekuatan yang luar biasa. Diharapkan sinergitas pembangunan agropolitan dengan revitalisasi destinasi Deles Indah akan menjadi  akselerasi peningkatan derajat kesejahteraan masyarakat Kemalang dan sekitarnya.

Agropolitan Klaten

Apakah Agropolitan itu?

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010, tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang, Kawasan Agropolitan adalah  kawasan yang terdiri  atas satu atau lebih pusat kegiatan pada wilayah perdesaan sebagai system produksi pertanian dan pengelolaan sumberdaya alam tertentu yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan fungsional dan hierarki keruangan satuan system permukiman dan system agrobisnis.

Pembangunan ekonomi berbasis pertanian berorientasi pada sistem dan usaha agribisnis ini digerakkan oleh masyarakat, pihak swasta dan difasilitasi pemerintah. Tujuan Agropolitan adalah mengurangi kesenjangan ekonomi dan sosial antar wilayah serta kesenjangan antar desa dan kota, mengurangi kemiskinan dan mencegah terjadinya urbanisasi tenaga produktif dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat tepat sasaran. Yang tak kalah penting vegetasi tetap tanaman durian serta buah-buahan pendukungnya  merupakan multipurpose tree species (MPTS), yang akan menjadi cover crop  mampu menjaga kelestarian fungsi hidrologi, mengingat Kemalang adalah recharge area bagi kelestarian sumber-sumber air yang ada di wilayah bawahnya.

Kawasan Agropolitan tidak dibatasi oleh batasan administratif akan tetapi dibatasi oleh skala ekonomi, yang terdiri dari Kota Tani Utama (Agropolis), dirancang berlokus di kecamatan Kemalang berfungsi sebagai pusat pelayanan dan pemasaran (pasar Kembang), sedangkan  desa Pusat Pertumbuhan meliputi desa Keputran, dan Kemalang yang menjadi Kawasan Sentra Produksi (KSP) durian. Agropolis dapat difungsikan sebagai destinasi pariwisata berbasis hortikultura khususnya buah-buahan, durian dan komoditas pendukungnya agar diperoleh pendapatan yang lumintu.

Desa-desa penyangga (Hinterland), yang menjadi kawasan budi daya/pemasok bahan baku durian meliputi desa –desa di kecamatan Kemalang, Manisrenggo, Karangnongko dan Tulung, bahkan apabila memungkinkan hingga wilayah (Musuk) kabupaten Boyolali. Menurut data BPS Klaten 2012, kecamatan –kecamatan tersebut selama ini merupakan wilayah produsen durian cukup potesial. Produksi durian tahun 2011, berturut-turut di kecamatan Kemalang 16.280 kuintal, Karangnongko 16.720 kuintal, Manisrenggo 9.020 kuintal dan Tulung 620 kuintal. Produksi tersebut belum optimal mengingat pengelolaannya belum intensif. Sementara menurut kordinator penyuluh Dinas Pertanian Boyolali kecamatan Musuk tengah dikembangkan  kegiatan sentra pemberdayaan petani untuk pengembangan durian dari program corporate social responsibility  (CSR), PT Pertamina .

Gagasan  ini kiranya tidak berlebihan dan bukan sesuatu yang mustahil. Peningkatan ekonomi kerakyatan pada kawasan rawan bencana  alam dan terdampak erupsi Merapi  merupakan pertimbangan utama ide ini. Hal ini sejalan dengan program pemerintah yang tengah dikampanyekan yakni living in harmony with disaster, bagi warga masyarakat dikawasan Merapi yang hidup berdampingan dengan ancamana bencana. Sekaligus membangun dan memperkuat ikon Klaten sebagai kawasan sentra produksi durian, guna  mendukung revitalisasi destinasi pariwisata Deles Indah. Disamping itu sekaligus mengimplementasikan tata kelola lingkungan yang baik dan produktif dalam bentuk penghijauan multi years, dengan komoditas MPTS. Demi terwujudnya Klaten lebih Bersinar kedepan, kiranya  patut mendapat respon policy maker  di pemerintah kabupaten Klaten, dan secara teknis  operasional dikoordinasikan Bappeda, melibatkan Dinas Pertanian, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta  DPU, untuk mengkaji lebih lanjut. Kemudian menyusun dan menetapkannya rencana  tata ruang kawasan agropolitan, yang sinergi dengan rencana pembangunan jangka panjang  dan rencana tata ruang wilayah kabupaten Klaten. [www.klaten.info]

Oleh : Kiswanto

Tags:

wisata durian klaten wisata kemalang klaten peluang agrobisnis di klaten

No comment for Gagasan Agropolitan Berbasis Komoditas Durian Di Kecamatan Kemalang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *