Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » KLATEN » Alternatif bahan bakar pascakonversi, Pengguna briket batubara di Ngawen dinilai masih minim

Alternatif bahan bakar pascakonversi, Pengguna briket batubara di Ngawen dinilai masih minim

(107 Views) June 3, 2009 5:30 am | Published by | 4 Comments

Ngawen (Espos) – Koordinator Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Makmur Desa Ngawen Kecamatan Ngawen, Klaten, Gatot Winarto STh, menilai penggunaan kompor briket batubara sampai saat ini masih minim.

Padahal bahan bakar itu bisa menjadi alternatif masyarakat pengguna minyak tanah pascapelaksanaan program konversi minyak tanah ke elpiji.

Menurut Gatot, berdasarkan pengamatannya, minat masyarakat di Dukuh Kebonan Desa Ngawen yang menjadi salah satu daerah percontohan, penggunaan kompor briket batubara pun belum tinggi untuk memakai kompor briket batubara guna memasak sehari-hari.
”Saat ini, masih banyak masyarakat yang menggunakan minyak tanah. Meskipun mahal, minyak tanah masih banyak dicari,” terang Gatot, akhir pekan lalu.

Ditemui di kediamannya, Dukuh Kebonan, Gatot mengisahkan, BKM Makmur Desa sudah memperkenalkan kompor briket batubara sejak Agustus 2008 kepada masyarakat, namun respons mereka belum antusias.
Hal itu ditunjukkan rendahnya konsumsi briket batubara yang tidak sampai 10 dus per bulan. Ke depan, kata Gatot, ketika minyak tanah benar-benar ditarik dari pasaran diharapkan masyarakat sudah memiliki alternatif untuk menggunakan kompor briket batubara.

Untuk 2010
Dia menambahkan, penggunaan kompor briket batubara itu memang diprogramkan untuk tahun 2010 ke atas. ”Menurut informasi yang saya peroleh dari salah satu sumber, pada tahun 2011 sampai 2012, minyak tanah sudah ditarik dari pasaran dan konversi ke penggunaan LPG sudah dilaksanakan. Kalau harga LPG mahal, barangkali briket batubara bisa menjadi solusi untuk memasak,” ucap Gatot.

Sebenarnya, imbuh Gatot, ada beberapa keuntungan dalam penggunaan briket batubara. Di antaranya yaitu aman atau tidak berbahaya, bersih dan tidak menyebabkan polusi. Dia mengemukakan pula, penggunaan briket batubara lebih efisien dibandingkan minyak tanah.

Harga briket batubara, kata Gatot, per biji Rp 2.000 sedangkan jika membeli per kardus Rp 40.000 isi 20 biji. Setiap keping briket, bisa untuk memasak sekitar 2,5 jam. ”Yang masih menjadi kelemahan penggunaan briket itu adalah perlu sedikit minyak tanah saat awal penyalaannya,” akunya. – Oleh : nad

Disalin dari: SOLOPOS, Edisi : Senin, 01 Juni 2009 , Hal.VIII

Tags:

alternatif briket batu bara di tahun 2015 jual batubaraklaten jual briket batubara klaten

Tags:
Categorised in: ,

4 Comments for Alternatif bahan bakar pascakonversi, Pengguna briket batubara di Ngawen dinilai masih minim

  • thoriq says:

    menurut saya cukup menarik kalau di klaten mulai mencari solusi untuk mengatasi krisis energi dengan menggunakan beriket. namun, apakah minat serta kondisi masyarakat klaten sudah siap mengganti kebutuhan mereka akan bahan bakar dengan bahan bakar yang baru?…, yang mungkin tidak begitu efisien, misalkan untuk mengganti elpiji atau minyak tanah. kemudian yang ingin saya tanyakan:
    1. siapa/ daerah mana penghasil briket di klaten?. apa keunggulan briket dibanding dengan bahan bakar lain dari sisi kegunaannya?. apakah menurut admin sendiri, penerapan bahan bakar briket ini apakah cocok untuk daerah klaten?.

  • paijo says:

    alternatif yg menarik, asal didukung penyediaan briket. Dulu pd waktu awal 90-an pernah disosialisasikan penggunaan briket batu bara tapi hasilnya nol besar. Untuk skrg ini lebih tepat, lebih bersih dan lebih mudah apabila mendukung konversi bahan bakar gas. Gitu pak win…..

  • Kunto says:

    akan lebih baik bila briket di sosialisasikan kepada masyarakat… karena pengetahuan masyarakat mengenai briket masih kurang dan perlu adanya petunjuk penggunaannya dengan sebaik-baiknya…..

  • A 6O ST says:

    Setuju banget ,cocok dikembangkan di daerah Ngawen cuma problemnya sosialisasi ke masyarakat digencarkan. Masyarakat sekarang kan cenderung ke yg praktis walaupun kadang tidak ekonomis. BB briket saat ini lebih cocok pada penggunaan industri kecil supaya bisa menekan biaya operasional. Saya acungi dua jempol buat mas win yang peduli pada efisiensi energi sebagai solusi makin mahalnya energi di masa yang akan datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *